Kota Berseri Solo Jangan Bising Ya - Zona Rantau

Zona Rantau

Zona Informasi Persembahan Perantau.. Jangan Sungkan untuk Klik Iklan jika Anda Tertarik.

Sunday, 3 May 2015

Kota Berseri Solo Jangan Bising Ya

Solo, ada yang belum pernah mendengar nama ini? Kalau ada yang belum dengar, tenang saja men.. enjoylah di dunia yang semakin hebat ini, hanya perlu sedikit bersahabat dengan eyang google untuk mendapatkan sebuah kata yang belum dikenal. Cukup goyangkan jari, sedikit lirikan atas-bawah dapat tuh apa-apa yang selama ini kita cari ^^.

Ya Solo adalah sebuah kota di Jawa Tengah yang sugih/kaya akan budaya, sejarah, kuliner, dan dan ternyata Solo adalah mantannya Bapak Jokowi. Kencan romantis yang dulu pernah ada antara Bapak Jokowi dan Solo, kini tinggal prasasti dan prestasi.  Solo selalu ada untuk tempat pulangmu, wahai si raja negeri. ^^

"Berseri", ntah mengapa kata itu selalu pas jika disandingkan dengan Solo. Apakah hal ini yang membuat Bapak cemburu lantas pergi? hehe Ah..mungkin bapak ingin menimba sebuah pengalaman baru. Kurelakan, begitu kata si Solo, selama ada sahabat "berseri" yang selalu menemani. Kamu termasuk sahabat berseri itu? Warga solo angkat telpon ya.. eh angkat komen ding. ^^

Jadi begini, sebenarnya penulis cuma ingin menceritakan sebuah kejadian yang biasa saja. Maksudnya biasa saja menurut warga setempat. Cerita nggak ya sudah biasa soalnya. Tapi kalo nggak cerita...

Ya sudah, ceritanya begini...
Pada suatu malam seorang ksatria perantau yang kelaparan pergi mencari makan. Tepatnya di bulan Oktober tanggal 25 kalo nggak salah. Bila pembaca merupakan perantau di Kota Solo maka bisa pada sekitar bulan itu pergi ke daerah Pasar Kleco ke Timur arah kota. Waktu itu cuaca sangat cerah namun tetap gelap karena memang sudah malam. ^^

Sampailah laki-laki itu pada hik/angkringan alias warung sego kucing (translated : cat rice) di sekitar gapura Pajang. Jalan kaki adalah sebuah pilihan karena memang tidak terlalu jauh dari tempat kos. Jalan yang bersih dan asri khas kota Solo, nikmat bagi seorang yang bukan warga lokal.

Singkat cerita perut kenyang, mengahabiskan wedang jeruk bersama pemilik hik. Ngobrol dari utara sampai selatan (baca:ngalor ngidul) khas pria-pria lajang pun terjadi.

Semakin malam....

Crekkkkkkk Srere re re rek... Srerere rerek.... rekkkkkk. Sreek srek 

begitu bunyi "Gareng Pung" sedikit menggatalkan teling namun tidak sebising jalan raya. Baiklah inilah pertunjukan alam di pinggir jalan raya kota Solo oleh kawanan gareng pung. Serangga hijau kecil yang pintar berdendang.




Hahaha "Mas ini suara apa ya (perasaan nggak ada mesin pabrik)?",
"Gareng pung ki Mas", jawab pemilik angkringan. Katanya ini biasa terjadi saat menjelang malam saat tidak hujan. Entah ini benar atau salah, yang bunyi biasanya yang jantan Mas.

Benar-benar nggak mau berhenti suara itu, mirip mesin dipabrik-pabrik. Lama ditunggu, nggak berhenti juga. Sampai gelas hangat habispun belum juga berhenti berdendang dan bergoyang. Perantau satu ini pun bergegas membayar dan check in ke "bunker".

Tapi begitulah sebenarnya simbol ke asrian kota Solo, berseri memang! Seolah mereka protes ke pada jalan raya. Hai jalan raya, kamu bising sekali? Bisa diam nggak? Asapmu menggangguku...

Ya. Semakin hari pemakai jalan raya kota Solo semakin banyak. Volume pemakai bertambah, jalan tak bertambah. Sedikit di sayangkan memang, kota Berseri nan Asri mulai terusik.

Kita semogakan, kota berseri rumah kedua para perantau, jangan bising ya..
SEMOGA.

No comments:

Post a comment

Centang "notify me" untuk notifikasi email komentar.